weradio.co.id

Indah, liat itu Wahyu make nomor punggung 17. Itukan tanggal lahir kamu! 17 Agustus, yakan?” – Tendangan dari Langit (2011)

 

Penggalan dialog ini bisa kalian lihat di sebuah film yang dirilis menjelang lebaran tahun 2011. Jadi teringat sebuah moment yang sangat tepat kala itu, menonton bersama 4 orang laki-laki beriman di tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang semestinya waktu di siang hari diperbanyak dengan tadarus. Untungnya kami masih kuat puasa sampai maghrib, Allahuakbar! Siang itu memang sudah direncanakan jauh hari ketika salah satu dari kami melihat trailer film bola yang isinya ada Irfan Bachdim, Kim Jeffry Kurniawan, Matias Ibo, dan Coach Timo. –masa-masa suram sebelum tau siapa Maudy Ayunda-

Jujur saja, selain karena kami berempat suka dengan film bergenre bola, niat kami menonton film ini lebih karena ada sosok Irfan Bachdim dan Matias Ibo yang membuat kami penasaran, selebihnya tergantung plot cerita ini mau membawa kami ngabuburit sampai mana.

Benar saja, dengan alur cerita yang ringan, penuh jenaka yang lumayan mengocok perut kami meskipun perut ini ga ada isinya buat dikocok-kocok, dan yang pasti sangat emosional!! Khususnya bagi kami, 4 orang pelajar SMA yang masih JOMBLO dan masing-masing punya “cemewew” di hati kami. Kecuali satu orang diantara kami yang saya indikasikan dia sedikit menyimpan perasaan cintanya pada Matias Ibo, sayangi fitrahmu Den!

Kenapa emosional? Khusus bagi kami pelajar SMA kala itu, film ini menceritakan belantika romansa masa remaja yang dilematis memilih antara sepakbola atau kamu, Maudy Ayunda. Ah, hanya orang bodoh saja memilih bola jika dibandingkan dengan Maudy Ayunda. Tetapi disinilah reformasi terjadi! Hanung Bramantyo berhasil membuat gebrakan revolusioner bagi jiwa-jiwa muda seperti kami yang cinta sepakbola juga cinta DIA (yang jelas bukan Matias Ibo).

Wahyu sebagai anak desa yang memiliki kemampuan sepakbola diatas rata-rata berhasil menembus squad utama Persema Malang yang dihuni pemain sekaliber Bima Sakti, Kim Jeffrey, dan Irfan Bachdim. Reformasi itu terjadi manakala Wahyu masuk sebagai pengganti dengan mengenakan nomor 17, yaitu tanggal lahir si Indah yang diperankan oleh Maudy Ayunda.

Sebenarnya biasa saja tidak ada reformasinya bagi sebagian besar orang. Tetapi dampaknya tidak biasa bagi kami berempat. Usai menonton film itu, kami berlomba-lomba menebar kode dengan angka-angka yang melambangkan seseorang “Indah” kami masing-masing. Dengan perasaan riang gembira, kami semua mengenakan nomor punggung kebanggaan masing-masing kala itu ( 17, 18, 20 ). Seakan sebuah wapak, dengan nomor ini semangat berlipat muncul seketika. Nomor yang anda di punggung jersey kami bermakna, inilah yang ingin kami tunjukkan untuk seseorang yang kami maksud dengan nomor-nomor itu. Inilah kami para dewan jomblo yang punya segala cara menarik perhatianmu.

Lalu ada apa dengan nomor punggung? Kenapa bisa sampai ada nomor keramat?

Berdasarkan dengan prolog diatas, nomor punggung bagi sebagian besar pemain sepakbola bukan sekedar nomor yang ada di punggung untuk menandakan keberadaan mereka di lapangan. Seperti pada tahun 1960-1980an, nomor punggung identik dengan posisi pemain. Biasanya nomor itu diurutkan mulai dari posisi kiper, sehingga banyak kiper yang memakai nomor 1. Lalu bek yang biasanya mengenakan nomor 2 – 5 ( 2 dan 3 untuk bek sayap, 4 dan 5 untuk bek tengah ). Begitu pun seterusnya, sampai muncul sebuah nomor keramat yaitu nomor 10 yang sering dikenakan oleh pemain bintang di sebuah tim. Saking cemerlangnya nomor 10, lalu muncul sebuah peran dalam taktik sepakboa yang dinamai classic no.10 atau biasa disebut playmaker yang handal. Sebut saja Del Piero, Hidetoshi Nakata, Riquelme, Rui Costa, Luis Figo, Tsubasa Ozora*.

Namun pada perkembangannya, penomoran pemain sepakbola modern kini tidak lagi dibatasi sampai 10. Lalu muncul pemain dengan nomor punggung yang beragam. Pada awal 2000-an masih teringat dengan Christian ‘Bobo’ Vierri yang mengenakan nomor 32 di Inter Milan. Kemudian pada 2008 muncul Ronaldinho di Milan yang mengenakan nomor punggung 80 yang sesuai dengan tahun kelahirannya yaitu 1980. Bahkan pada kasus yang lebih “radikal” lagi mengenai nomor punggung adalah ketika Firman Utina yang khas dengan nomor punggung 15 tidak bisa memakai nomor kebanggaannya saat membela Persija. Kala itu ada pemain lain yang mengenakan nomor 15 juga. Tidak kehabisan akal agar masih identik dengan angka 15, kemudian Firman Utina mengenakan nomor punggung unik, yakni 8+7 yang berjumlah 15. Begitu berhagranya nomor 15 bagi Firman Utina sampai-sampai terpikirkan untuk mengenakan nomor punggung yang sesuai dengan kurikulum matematika kelas 1 SD.

Begitupun dengan nomor punggung yang dipensiunkan oleh tim-tim sepakbola untuk menghormati jasa para pemainnya. AC Milan memensiunkan nomor 3 untuk menghormati Maldini, Manchester City memensiunkan nomor 23 untuk menghormati mendiang Mark Vivien Foe yang telah wafat, juga Persija dan Persib yang sama-sama tidak memakai nomor 12 untuk menghormati pendukung sejatinya.

Apakah nomor-nomor itu adalah kebetulan? Tentu saja tidak. Nomor itu adalah simbol yang didalamnya terdapat pesan yang ingin disampaikan baik dari pemilik nomor maupun untuk pemilik nomor sebagai tanda penghormatan.  Seperti yang diungkapkan dalam sebuah teori Interaksionisme Simbolik yang dikemukakan oleh Mead bahwa “simbol ini muncul akibat dari kebutuhan setiap individu untuk berinteraksi dengan orang lain, dan dalam proses interaksi tersebut pasti ada suatu proses berpikir yang mengawali”. Dengan perkembangan teknologi yang berakibat pada derasnya konsumsi informasi setiap masyarakat, terlebih lagi untuk para pecinta sepakbola yang nampaknya akan terus berkembang akan mengkonstruksi identitas seorang pemain bola yang menjadikan semakin identik dengan nomor punggung yang dikenakannya. Jika nomor punggung hanya sebuah identitas layaknya nomor KTP atau nomor mahasiswa, hal tersebut bisa saja berdampak pada berkurangnya makna Simbol dari nomor punggung.

Meskipun pengaruh teknologi dapat mengurangi makna akan nomor punggung itu sendiri, tetapi pada dasarnya kita sepakat untuk terus menghidupkan dan menjalankan nilai bahwa nomor punggung bagi pemain bola yang sarat akan makna tersirat adalah cara berinteraksi dengan penonton, dengan suporter  sejati, dengan belahan dunia, ataupun juga dengan pujaan hati.

Tapi, Khusus bagi pujaan hati nampaknya tidak cukup dengan nomor punggung, harus disertai dengan doa tuk jadi tulang punggung dalam rumah tangga kita nanti.

Read 393 times Last modified on Jan 16, 2017

CONTACT US

Jl. Ragunan Raya no46, Jatipadang
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540 

(021) 7823282

 

Recent comments

Popular tags

Top
We use cookies to improve our website. By continuing to use this website, you are giving consent to cookies being used. More details…