PBSI Harap Gloria dan Melati Dekati Kemampuan Liliyana Natsir

oleh

PBSI Harap Gloria dan Melati Dekati Kemampuan Liliyana Natsir . Pebulu tangkis putri Gloria Emanuelle Widjaja dan Melati Daeva Oktavianti didorong untuk dekati level permainan Liliyana Natsir.

News – Usai Liliyana Natsir gantung raket, Indonesia kini memiliki dua ganda campuran yang masuk 10 besar dunia. Mereka ialah Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti.

Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja menduduki peringkat keenam dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti berada di peringkat tujuh dunia.

Meski berada di peringkat 10 besar dunia, performa kedua pasangan ganda campuran tersebut dinilai belum maksimal. Mereka belum bisa mencapai hasil yang ditargetkan.

Sejauh ini, Hafiz/Faizal belum meraih gelar, sementara itu pencapaian terbaik Praveen/Melati yakni menjadi runner-up India Open, New Zealand Open dan Australian Open.

Liliyana Natsir Pertanyakan Pemerintah soal Tunjangan Olimpiade

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PP PBSI, Susy Susanti, mengakui bahwa PBSI kehilangan pemain seperti Liliyana Natsir.

“Kami akui mundurnya Butet (sapaan Liliyana Natsir) itu membuat kami kehilang figur,” ujar Susy Susanti dilansir News dari Bolasport.com.

Susy mengatakan bahwa permainan Liliyana Natsir berada di atas semua pemain ganda campuran. Kini, PBSI akan berusaha membantu pemain putri seperti Gloria Emanuelle Widjaja dan Melati Daeva Oktavianti untuk mendekati kemampuan Liliyana Natsir.

“Secara permainan, memang dia lebih di atas dari semua pemain ganda campuran. Jadi, belum ada satu pun yang bisa mendekati Butet, khususnya di putri. Kami ingin dorong Gloria dan Melati untuk paling tidak mendekati Butet,” ucap Susy.

Hal tersebut dilakukan untuk mengejar peluang lolos kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020.

Meski demikian, Susy Susanti tidak menutup kemungkinan pasangan lain bisa menyalip Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja dan Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti selama kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020.

Pensiun dari Bulu Tangkis, Liliyana Natsir Buka Peluang Kuliah

“Misalnya, jika ada Rinov Rivaldy/Pitha Haingtyas Mentari atau Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow, kalian bersaing saja. Sekarang bagaimana memoles, mematangkan dan memberi tanggung jawab,” ujar Susy Susanti.

Susy Susanti mengatakan bahwa setelah Liliyana Natsir pensiun, Gloria dan Melati perlu menyesuaikan diri dengan tanggung jawab ketika mereka diprioritaskan menuju Olimpiade Tokyo 2020.

“Perasaan kaget itu pasti ada, tetapi harus menerimanya dengan positif. Jangan dijadikan beban, justru anggap ini sebagai kesempatan,” ujar peraih medali emas tunggal putri Olimpiade Barcelona 1992 ini.

Susy juga menyadari bahwa ketegangan yang dialami pebulu tangkis saat bertanding adalah kondisi yang umum dirasakan semua atlet saat memasuki lapangan pertandingan.

Namun, atlet harus bisa menutupi ketegangan tersebut dengan persiapan yang maksimal. Menurut Susy Susanti, jika persiapan bagus, maka rasa tegang hanya akan singgah sementara.

“Orang bisa karena biasa, pada saat latihan dia nggak siap, terus pada pertandingan ketat, akan ada keraguan pada diri pemain itu,” lanjut Susy Susanti.

7 Fakta Pamitnya Liliyana Natsir, Rekor, Gelar Terbaik hingga Jadi PNS

Susy menjadikan pebulu tangkis putra ganda campuran Rinov Rivaldy yang belum lama ini mendapat bonus latihan karena kesadaran bahwa dia belum meraih gelar juara.

“Walaupun latihan sampai teriak-teriak, tetapi dia mau kerjakan sehingga terlihat karakternya,” ujar Susy Susanti.

Menurut Susy, hal-hal kecil yang dilakukan oleh Rinov tersebut bisa menunjukkan karakter seorang atlet.

Jika seorang atlet beralasan untuk tidak melakukan latihan tambahan karena lelah dan takut cedera, maka hal tersebut akan menjadi kendala bagi atlet itu sendiri.

 INFOGRAFIK: Daftar Gelar yang Pernah Diraih Liliyana Natsir…

Susy Susanti menjadikan Hendra Setiawan dan Anthony Sinisuka Ginting sebagai contoh pebulu tangkis yang masih berusaha tampil maksimal di tengah kondisi fisiknya yang sedang tidak prima.

“Contohnya Hendra Setiawan saat All England. Bagaimana dia bisa menutupi kondisinya dia dan tidak menjadi kendala,” ucap Susy Susanti.

“Kenapa saya bisa ngomong gitu, atlet-atlet zaman dulu lebih tough, tidak mudah menyerah, selagi masih bisa berdiri dicoba terus,” lanjut Susy.

“Anthony Sinisuka Ginting sampai dia tidak bisa berdiri, mencoba terus. Sebetulnya dia melewati second win, sampai melewati batas kemampuan manusia, itu berani. Hal-hal non-teknis juga mempengaruhi,” kata Susy Susanti.

Pebulu tangkis Indonesia akan kembali berlaga pada ajang Indonesia Open 2019 yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, 16-21 Juli mendatang.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!