Nilai Ekspor Industri Primer Kehutanan Terkoreksi

oleh

Nilai Ekspor Industri Primer Kehutanan Terkoreksi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat nilai ekspor industri primer kehutanan pada periode Januari – Mei tahun ini mengalami penurunan sebesar 19,95% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

News, JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat nilai ekspor industri primer kehutanan pada periode Januari – Mei tahun ini mengalami penurunan sebesar 19,95% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Data release Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) KLHK mencatat nilai ekspor industri primer kehutanan pada Januari – Mei 2018 sebanyak US$5,83 miliar, sedangkan nilai ekspor kayu panel periode yang sama tahun ini mencapai US$4,90 miliar.

Artinya, terjadi penurunan nilai ekspor kayu panel sekitar US$930 juta.

Bambang Hendroyono, Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tidak bisa mengatakan, turunnya nilai ekspor industri kehutanan disebabkan berkurangnya permintaan produk kayu Indonesia dari pasar global.

“Ya kan kalau ekspor kan tergantung permintaan pasar ya,” tuturnya kepada Bisnis, Jumat, (27/6/2019).

Hilman Nugraha, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) KLHK menyampaikan faktor penurunan nilai ekspor disebabkan oleh turunnya harga kayu Indonesia.

“Harga kayu itu saat ini trennya rendah, tetapi nanti sekitar bulan Agustus atau September trennya biasanya akan naik lagi,” kata Hilman.

Meskipun mengalami penurunan nilai ekspor yang cukup tinggi, Hilman optimistis bahwa nilai ekspor industri primer kehutanan pada Semester II/2019 dapat kembali menggeliat dan dia berharap total nilai ekspor industri primer kehutanan menyamai total nilai ekspor pada tahun lalu sebesar US$12miliar.

“Insyaallah [akan naik], minimal sama sama dengan total nilai ekspor tahun lalu,” tandasnya.

Salah satu nilai ekspor industri primer kehutanan yang mengalami penurunan sepanjang lima bulan awal tahun ini adalah komoditas kayu panel atau plywood. Komoditas kayu konstruksi ini tercatat mengalami penurunan sebesar 23,81% dibandingkan dengan capaian nilai ekspor tahun lalu.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat nilai ekspor kayu panel pada Januari – Mei 2018 sebanyak US$1,20 miliar, tahun ini nilai ekspor kayu panel pada periode yang sama hanya mencapai US$919,54 juta, terjadi penurunan nilai sebesar US$286,71 juta.
Gunawan Salim, Pengurus Bidang Pemasaran dan Hubungan Internasional Asosiasi Kayu Panel Indonesia (Apkindo) mengatakan, turunnya nilai ekspor kayu panel disebabkan turunnya harga pasaran kayu panel sejak Kuartal IV/2018.

“Jadi, pada awal tahun lalu harga kayu panel naik karena bahan bakunya kurang, produksinya sedikit makanya nilai ekspor juga naik, namun sejak Semester II/2018 sejak bahan baku ke industri sudah mulai banyak, produksi berlebih, tapi efeknya sejak Kuartal IV/2018 sampai sekarang harga panel turun drastis,” tuturnya kepada Bisnis, Kamis, (27/6/2019).

Selain itu, dia berpendapat turunnya nilai ekspor tersebut juga dipengaruhi turunnya permintaan produk kayu panel secara global Serikat karena efek perang dagang antara Amerika Serikat-China.
“Akibat dari perang dagang itu, semua negara jadi lebih selektif dan berhati-hati,” katanya.

Salah satu negara tujuan ekspor kayu panel yang terlihat menahan pembelian adalah Jepang.

Gunawan mengatakan, menurut data yang dia miliki penurunan pembelian kayu panel dari Jepang sudah terjadi sejak Januari-Maret 2019.

Menurutnya, volume ekspor ke negeri sakura tersebut turun 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun, volume ekspor kayu panel ke Jepang pada Januari-Maret tahun lalu mencapai 278.000 m3.

“Tidak hanya ke Jepang, volume ekspor kayu panel ke Amerika juga mengalami penurunan sekitar 27%, dari 143.000 m3 tahun lalu, jadi 104.000 m3 tahun ini,” jelasnya.
Meskipun mengalami penurunan nilai ekspor yang cukup tinggi, Gunawan optimistis bahwa nilai ekspor kayu panel pada Semester II/2019 dapat tumbuh sampai 20% dibandingkan dengan capaian nilai ekspor pada Semester I/2019.

Dia meyakini, proyeksi pertumbuhan itu akan terpenuhi karena para konsumen akan kembali melakukan impor kayu panel untuk memenuhi kebutuhan industri properti dan industri lainnya.

“Karena kan stok kayu panel mereka pastilah nanti sudah berkurang dan butuh stok baru,” tandasnya.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!