Aplikasi E-Commerce Makin Populer, Mayoritas Hanya Window Shopping

oleh

Aplikasi E-Commerce Makin Populer, Mayoritas Hanya Window Shopping. Terdapat penurunan cukup besar yang terjadi dari pada fase pembelian melalui aplikasi e-commerce dengan biaya per pembelian menunjukkan kenaikan.

News, JAKARTA — Liftoff, sebuah platform unggulan di bidang pemasaran dan penargetan ulang aplikasi seluler, bekerja sama dengan Adjust, perusahaan yang bergerak di bidang pengukuran seluler (mobile measurement) dan pencegahan kecurangan (fraud prevention) merilis Laporan Aplikasi Belanja Seluler 2019.

Laporan tersebut memaparkan analisis mendalam tentang perilaku berbelanja orang Indonesia melalui aplikasi seluler, yang menunjukkan bahwa semakin meningkatnya kenyamanan dalam berbelanja dapat membantu mendorong pengguna untuk berbelanja melalui aplikasi tersebut.

Dalam laporannya, Liftoff menyebut Indonesia merupakan sebuah pasar yang sangat menarik dalam hal akuisisi dan perilaku pengguna terhadap aplikasi belanja seluler. Hal ini dikarenakan tingginya ekspansi penggunaan internet serta pertumbuhan perdagangan daring (online commerce).

“Untuk pihak pemasar aplikasi yang ingin mendorong tingkat pembelian, kuncinya terletak pada penggunaan data yang mereka miliki, pemahaman titik-titik yang berpotensi turun, serta kemampuan menentukan segmen serta target yang sesuai,” ujar Christian Henschel, Co-founder dan CEO Adjust, seperti dikutip, Senin (1/7).

Lebih lanjut, konsumen e-commerce di Indonesia biasanya memakan waktu yang lama untuk bergerak dari instalasi ke pembelian, dengan rata-rata waktu mencapai 1 hari, 19 jam, dan 31 menit. Namun demikian, Liftoff memprediksikan bahwa tren tersebut akan cenderung mengalami peningkatan pada masa depan karena berbagai aplikasi lokal seperti Gojek membuat aktivitas pembayaran dan belanja seluler semakin banyak dan populer.

Hal lain yang menjadi perhatian bagi pihak pemasar dan pengusaha ritel adalah tingkat retensi aplikasi belanja di Indonesia yang berada di posisi paling akhir dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik, dengan tingkat retensi sebesar 11% pada hari ke-1 dan turun drastis menjadi 4% pada hari ke-7.

Alasan utama yang melatari penurunan yang drastis ini adalah rendahnya kurva pembelajaran (learning curve) konsumen, ketidaksabarandalam memahami mekanisme penggunaan aplikasi, serta kegagalan dalam memahami nilai jangka panjang dari instalasi suatu aplikasi.

 Baik di Indonesia maupun di seluruh kawasan Asia-Pasifik, Liftoff menemukan bahwa pengguna cenderung terbuka dalam mengeksplorasi berbagai aplikasi belanja, dengan tingkat registrasi yang meningkat tajam serta biaya akuisisi yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Namun demikian, data menunjukkan adanya sebuah tren baru yang mengejutkan, yaitu mobile window shopping.

Saat pengguna dengan mudahnya melakukan instalasi dan pendaftaran pada aplikasi, laporan gabungan Liftoff dan Adjust menyebutkan bahwa terdapat penurunan cukup besar yang terjadi pada fase pembelian, dengan biaya-per-pembelian-pertama (cost-per-first-purchase) di Asia-Pasifik yang mengalami kenaikan sebesar 13,3% menjadi USD31,26, diikuti dengan rendahnya tingkat konversi yang berada pada angka 10,1%.

 Faktor pendorong dari penurunan ini belum diketahui secara jelas, tetaou fenomena tersebut dapat mengindikasikan adanya tren berbelanja yang lebih besar, yaitu adanya permintaan terhadap adanya pengalaman berbelanja yang lebih ramah pengguna.

Saat tingkat harga cenderung mendominasi keputusan konsumen dalam berbelanja, beragam faktor seperti adanya interaksi dengan penjual serta kekhawatiran akan kemampuan penjual dalam memenuhi pesanan juga dipandang penting oleh para pembelanja seluler.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!