Cerita Pengasin Ikan dan Nelayan: Mengais Rezeki di Tengah Reklamasi

oleh

Cerita Pengasin Ikan dan Nelayan: Mengais Rezeki di Tengah Reklamasi. Seorang nelayan pernah dibayar gorengan akibat reklamasi

Jakarta – Deru air laut langsung menyambut saya begitu tiba di tempat pengasinan ikan, Kampung Nelayan, Kamal Muara, Jakarta Pusat, Jumat (16/8). Meski jarum jam masih menunjukkan pukul 10.00 WIB, namun sinar matahari sudah terasa begitu terik.

Dan alih-alih menemukan ikan, saya justru mendapati hamparan udang rebon tengah dijemur oleh para pengasin. Salah seorang pekerja pengasin ikan bernama Rudi,32, mengatakan, saat ini memang sedang musimnya udang rebon.

“Macem-macem (ikannya) biasanya, cuma sekarang lagi musim ini (udang rebon),” kata Rudi kepada di lokasi.

1. Pengasin ikan hanya kerjaan musiman

Cerita Pengasin Ikan dan Nelayan: Mengais Rezeki di Tengah Reklamasi

Rudi mengatakan ia baru bekerja sebagai pengasin ikan di tempat itu sekitar dua bulan. Warga asli Subang, Jawa Barat ini, hanya ingin mengisi waktunya untuk menambah penghasilan. Jika musim hujan tiba, ia akan kembali ke Subang untuk berkebun dan menggarap sawah.

“Isi pengalaman aja di sini. Jadi (kerja) di sini kalau lagi musim kemarau aja,” katanya.

Rudi menjelaskan, ia merasa senang bekerja sebagai pengasin ikan. Jika tangkapan para nelayan sangat banyak, dalam sehari ia bisa mendapat penghasilan hingga Rp150 ribu.

“Kalau lagi sepi ya paling Rp50-60 ribu,” jelas Rudi.

2. Reklamasi penyebab turunnya penghasilan

Cerita Pengasin Ikan dan Nelayan: Mengais Rezeki di Tengah Reklamasi

Di tempat yang sama, pekerja pengasin ikan lain bernama Teddy Nursyaf, 45, mengungkapkan proyek reklamasi menyebabkan para pengasin dan nelayan ikan mengalami penurunan pendapatan.

Pria asli Jakarta itu telah bekerja sebagai pengasin ikan selama lima tahun. Untuk menambah penghasilan, dirinya juga bekerja sebagai sopir angkutan umum.

“Reklamasi ini bikin ikan-ikan yang ditangkap (nelayan) cuma dikit. Kitanya juga (pengasin ikan) dapetnya (penghasilan) jadi dikit,” ungkap Teddy.

Meski begitu, Teddy tetap bersyukur masih bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia merasa terbantu dengan adanya program-program pemerintah seperti, BPJS kesehatan, Kartu Jakarta Sehat (KJS), hingga sekolah gratis selama 9 tahun.

Ia kemudian mencontohkan, ketika sang mertua harus dilarikan ke rumah sakit. Meski memang prosesnya begitu lama, namun semuanya dilayani dengan maksimal.

“Jadi kurang apa lagi kita ini dimanjakan sama Pemerintah? Kita aja yang kadang gak mau manfaatin yang sudah ada,” jelasnya.

“Kalau yang suka protes-protes itu mah emang gak mau ngikutin proses aja,” sambungnya.

Teddy menambahkan, di usia Indonesia yang ke-74 tahun, ia merasa sudah merdeka.

“Alhamdulilah merdeka. Selagi masih bisa makan ya kita merdeka, meski rumah juga masih ngontrak,” ujarnya.

3. Akibat Reklamasi, seorang nelayan pernah dibayar dengan gorengan

Cerita Pengasin Ikan dan Nelayan: Mengais Rezeki di Tengah Reklamasi

Salah seorang nelayan bernama Johari, 32, paling merasakan dampak dari proyek reklamasi. Tangkapan ikan yang awalnya melimpah, sekarang hanya bisa menerima kenyataan yang ada. Hal ini pun juga menyebabkan penghasilannya menurun.

“Sedapatnya aja apa (ikan) yang ada di situ (laut). Sehari kalau (tangkapan) banyak bisa dapat Rp200 ribu. Kalau sedikit ya paling Rp50ribu, Rp20 ribu, kadang cuma (dibayar pakai) gorengan doang,” kata Johari.

4. Reklamasi berdampak pada penurunan pendapatan pengusaha pengasin ikan

Cerita Pengasin Ikan dan Nelayan: Mengais Rezeki di Tengah Reklamasi

Oji, pemilik usaha pengasinan ikan pun meraskan dampak proyek reklamasi. Menurut pria berusia 43 tahun tersebut, hasil tangkapan ikan para Nelayan semakin menurun sejak adanya proyek Reklamasi. Proyek itu bahkan sangat berdampak bagi pendapatan bagi para nelayan.

“Nelayan kita kan nelayan pinggir (laut), bukan nelayan tengah (laut). Kalau nelayan pinggir, fatal kalau masalah reklamasi ini,” ucap Oji.

Oji melanjutkan, hingga tahun 2000, hasil tangkapan ikan masih terbilang melimpah. Perubahan drastis pun mulai dirasakan pada tahun 2003.

“Bisa setengahnya, dari 100 persen sekarang 50 persen. Dulu kan ikannya banyak, terus Nelayan penghasilannya banyak, terus harga juga lebih murah,” jelasnya.

“Kalau sekarang sulit. Ikannya kurang, kan otomatis ikannya mahal. Jadi susah juga konsumen kita mau masarin ke warung-warung kecilnya,” sambungnya.

Meski begitu, Oji tetap bersyukur, usahanya sampai saat ini masih terus berjalan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

5. Berharap Pemerintah memperhatikan pengusaha-pengusaha kecil

Cerita Pengasin Ikan dan Nelayan: Mengais Rezeki di Tengah Reklamasi

Lebih lanjut, Oji berharap, pemerintah bisa lebih memperhatikan pengusaha-pengusaha kecil seperti dirinya. Ia menginginkan, agar pemerintah memberikan bantuan, yang bisa mengembangkan usaha para pengusaha-pengusaha kecil di Indonesia.

“Tolong bisa didengar keluhan kita rakyat-rakyat kecil, pengelola-pengelola kayak kita gini bisa diperhatikan. Misalnya bantu pembinaan, pemasaran, itu aja. Ya yang jelas bantuan aja,” ungkapnya.

Oji tak mengelak, pemerintah lewat dinas terkait sebenarnya sudah turun langsung memberikan bantuan. Akan tetapi, bantuan tersebut dinilai Oji belum efektif.

“(Presiden) Jokowi uda naek dua kali begini, bisa dong diperhatikan lebih. Jadi jangan usaha yang lain aja diperhatikan. Usaha kecil yang kayak kita juga diperhatiin,” tutur Oji.

6. Oji: Kemerdekaan udah ada untuk kita, tapi belum tahu untuk yang lain

Cerita Pengasin Ikan dan Nelayan: Mengais Rezeki di Tengah Reklamasi

Ketika ditanyai apakah dirinya sudah merasa merdeka di usia Indonesia yang ke -74 tahun, Oji hanya mengatakan, semua itu tergantung dari pemikiran setiap orang masing-masing.

“Karena kalau kita kan sudah punya usaha. Tinggal tergantung bagaimana kita mengembangkannya . Kemerdekaan udah ada buat kita, tapi belom tahu kalau untuk yang lain,” kata Oji.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!