PSM Vs Persib, Kisah Kedua Tim Berebut Gelar pada Era Perserikatan

oleh

PSM Vs Persib, Kisah Kedua Tim Berebut Gelar pada Era Perserikatan. Kedua kesebelasan berstatus sebagai tim legendaris alumni kompetisi Perserikatan. Persib dan PSM juga menjadi tim terbesar yang berprestasi.

BANDUNG, News – Pekan ke-15 Liga 1 2019 akan diramaikan dengan bentrok antara PSM Makassar vs Persib Bandung. 

Laga yang akan berlangsung di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, Minggu (18/8/2019) bisa dibilang sebagai duel klasik di kompetisi sepak bola Indonesia.

Kedua kesebelasan berstatus sebagai tim legendaris alumni kompetisi Perserikatan. Tak hanya itu, PSM dan Persib juga sama-sama menyandang status sebagai tim besar sarat prestasi di kancah sepak bola nasional.

Menyoal prestasi, sejak era Perserikatan, PSM dan Persib cukup sering terlibat persaingan sengit perebutan gelar juara. Pada era Perserikatan, kedua tim tercatat empat kali bersaing secara langsung untuk berebut trofi juara.

Berikut ulasan singkat News tentang persaingan PSM dan Persib dalam perebutan gelar juara di era Perserikatan.

Harapan Umuh Muchtar Usai Persib Rekrut 3 Pemain Asing Baru

Maung Bandung Gagal Patahkan Dominasi Juku Eja

Pada 6 September 1960, Persib dan PSM bersua dalam laga penentuan juara Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PSSI 1959/60 di Lapangan Ikada, Jakarta.

Persaingan Persib dan PSM saat itu sangat sengit. Pada tabel klasemen, Persib menempati posisi kedua dengan delapan poin. Maung Bandung hanya berselisih 2 poin dari PSM yang berada dipuncak klasemen.

Persib berpeluang memutus rantai dominasi PSM yang dalam beberapa musim terakhir merajai panggung sepak bola Indonesia jika menang saat itu.

Bila menang atas PSM, Persib bisa menyamai perolehan poin Juku Eja (saat itu hasil poin kemenangan dihitung dua poin) dan berhak atas gelar juara karena unggul head to head.

Di depan puluhan ribu pasang mata yang memadati setiap sudut tribune penonton Stadion Ikada, Persib tampil dominan sejak awal laga.

Baru dua menit pertandingan berjalan, jagoan dari Bandung itu sudah unggul 1-0 melalui gol yang dibukukan Omo Suratmo.

Manajemen Persib Tunggu Sinyal Pemkot Bandung untuk Kembali ke GBLA

Gol cepat Persib ternyata tak meruntuhkan mental Ramang dkk. Empat menit berselang setelah gol Omo, Ramang membuat publik Bandung terdiam melalui golnya.

Alih-alih mencetak gol lagi, gawang Persib justru kembali dibobol pada penghujung babak pertama. Suwardi Arlan menjadi sosok antagonis bagi Persib, karena golnya di menit ke-42.

Keunggulan 2-1 PSM atas Persib bertahan hingga laga usai. Dengan hasil tersebut, PSM berhak meraih gelar juara untuk kali kedua secara beruntun.

Insiden Mattoangin, Pembalasan Dendam Persib Bandung

Pada kompetisi musim berikutnya, 1961, Persib dan PSM kembali terlibat dalam persaingan perebutan gelar juara di Kejurnas PSSI.

Saat itu, bentrokan Persib dengan PSM berlangsung di Stadion Mattoangin (sekarang Stadion Andi Mattalatta) pada 4 Juni 1961.

Laga tersebut sejatinya bukan pertandingan penentuan juara kompetisi. Hanya, siapa pun tim yang berhasil meraih kemenangan bisa memiliki peluang juara lebih besar.

Mengingat pada musim sebelumnya Persib dan PSM bersaing sengit dalam perebutan gelar juara, laga di Stadion Mattoangin pun menyedot animo penonton yang sangat luar biasa. Sekitar 50.000 orang menyaksikan laga tersebut dan mereka sampai luber hingga sentelban.

Di lapangan, pertandingan berlangsung panas. Persib unggul lebih dulu melalui Omo Suratmo, namun PSM bisa membalas kemudian hingga skor menjadi 1-1.

Pertandingan berjalan alot, karena kedua kesebelasan saling jual beli serangan. Hingga jelang laga berakhir, tepatnya pada menit ke-84, Persib mendapatkan hadiah penalti dari wasit Kuntadi.

Para pemain PSM memprotes keras keputusan Kuntadi, mereka bingung maksud wasit yang kala itu dikenal sebagai wasit terbaik di sepak bola Indonesia itu memberikan penalti kepada Persib.

Sebelum keputusan penalti diberikan, Kapten Persib kala itu Rukma, melakukan penetrasi di sisi kiri pertahanan lawan. Rukma dijatuhkan, tapi sebelumnya dia sudah bisa mengirim bola ke kotak penalti.

Hakim garis sempat mengangkat bendera saat itu, tapi Kuntadi bergeming dan terjadilah duel udara antara penyerang Persib dan bek PSM. Tak lama kemudian, Kuntadi meniup peluit dan menunjuk titik putih.

Pertandingan sempat terhenti cukup lama, karena protes keras dari para pemain PSM. Para pemain Juku Eja sempat melakukan mogok main, sementara Freddy Timisela, penyerang Persib saat itu, tetap di posisinya untuk mengambil ancang-ancang penalti.

Kuntadi sempat dipanggil dan berbincang dengan komisi pertandingan PSSI di pinggir lapangan. Dalam perbincangan tersebut, Kuntadi mengatakan terjadi handsball yang dilakukan pemain PSM sehingga dia memutuskan memberi penalti pada Persib.

Hingga akhirnya pertandingan dihentikan pada menit ke-84. Kejadian tersebut kemudian dikenal dengan tragedi Kuntadi atau insiden Mattoangin.

Beberapa hari kemudian, dalam Surat Komando (SK) Gerakan Olahraga (Kogor) diputuskan, hasil 1-1 pertandingan tersebut akan menjadi hasil sementara.

Laga akan dilanjutkan di hari lain, dari menit ke-84 dan dimulai dengan penalti untuk Persib. Akan tetapi, hasil dari laga tersebut akan menjadi hasil tetap bila Persib mampu mengakhiri kompetisi dengan poin tertinggi.

Pada akhirnya, laga Persib vs PSM yang terhenti pada menit ke-84 itu tidak pernah dilanjutkan. Sebab, Persib keluar sebagai juara kompetisi 1961.

Persib mampu mengungguli perolehan poin PSM setelah pada laga terakhir mengalahkan Persija Jakarta 3-1. Sementara PSM, bermain imbang 3-3 dengan Persebaya Surabaya.

Saling Balas di Laga Final

Persib dan PSM kembali bentrok dalam laga perebutan gelar juara Perserikatan 1966. Saat itu, kedua tim bertemu pada laga final yang berlangsung di Stadion Teladan, Medan, 17 September 1966.

Stadion Teladan merupakan venue final pengganti. Sebelumnya, pertandingan akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 15 Agustus 1966.

Namun, karena ada kericuhan yang terjadi pada laga semifinal antara Persib dengan Persebaya, maka pertandingan final antara Persib vs PSM ditunda dan dipindahkan ke Medan.

Dalam laga final tersebut, PSM berhasil mengandaskan Persib dengan skor meyakinkan 2-0.

Setelahnya, cukup lama Persib dan PSM tak bersua dalam laga final atau penentuan gelar juara Perserikatan. Sampai akhirnya, Persib dan PSM kembali bersua dalam laga final Perserikatan 1993/1994. Itu adalah laga yang emosional karena menjadi pertandingan penutup kompetisi Perserikatan.

Sebab, PSSI memutuskan untuk mengubah format kompetisi dengan melebur tim-tim dari Perserikatan dan Galatama bermain di Liga Indonesia, pada musim berikutnya.

Oleh karena itu, klub yang menjadi juara dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Utama Senayan, 17 April 1994, akan menjadi juara abadi Perserikatan.

Persib keluar sebagai pemenang. Maung Bandung menumbangkan PSM dua gol tanpa balas melalui Yudi Guntara dan Sutiono Lamso. Berkat kemenangan tersebut, Persib mengukuhkan diri sebagai jawara abadi di kompetisi Perserikatan.

Setelah berakhirnya era Perserikatan, Persib dan PSM sudah tidak pernah lagi bersaing secara langsung dalam perebutan gelar juara. Kendati begitu, bentrokan kedua klub ini tetap berlangsung sengit. 

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!