Pinggiran Jakarta Jadi Preferensi Lokasi Hunian Milenial

oleh

Pinggiran Jakarta Jadi Preferensi Lokasi Hunian Milenial. Bagi milenial urban yang bekerja di Jakarta, membeli hunian bisa menjadi persoalan pelik. Di satu sisi, milenial membutuhkan hunian nyaman yang dekat dengan aktivitas di pusat kota dan mendukung gaya hidupnya. Di lain sisi, butuh merogoh kocek dalam-dalam untuk mewujudkan hal tersebut.

News, JAKARTA – Bagi milenial urban yang bekerja di Jakarta, membeli hunian bisa menjadi persoalan pelik. Di satu sisi, milenial membutuhkan hunian nyaman yang dekat dengan aktivitas di pusat kota dan mendukung gaya hidupnya. Di lain sisi, butuh merogoh kocek dalam-dalam untuk mewujudkan hal tersebut.

Harga properti di Ibu Kota yang meroket dan semakin tidak sebanding dengan penghasilan, memaksa kaum milenial menjatuhkan pilihan ke pinggiran Jakarta.

Nico Purnomo Po, Chief Executive Officer PT Pollux Properti Indonesia Tbk. mengatakan, sepanjang tahun ini diperkirakan permintaan pasar properti di pinggiran Jakarta akan didominasi oleh kalangan milenial.

Hampir 80% permintaan akan dipenuhi oleh kelompok milenial menengah ke bawah dengan harga hunian kurang dari Rp1 miliar. Hal ini disebabkan penghasilan rata-rata kaum milenial yang berada di antara Rp6 juta sampai Rp7 juta per bulan.

“Artinya mereka hanya berpotensi dapat membeli properti seharga Rp200 jutaan sampai 300 jutaan, dengan cicilan Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per bulan,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, tantangan bagi dunia industri properti adalah adalah daya beli masih terbatas. Bagaimanapun, kaum milenial ini secara umum terhitung sebagai tenaga kerja lini pertama, atau bagi sebagian lagi yang lebih berusia masuk di lini manajer menengah. Dengan penghasilan rata-rata yang sekitar Rp6 juta sampai Rp7 juta per bulan itu, tidak banyak produk properti yang dapat disasar, khususnya di pusat Jakarta.

Mengutip sebuah survei dia mengatakan, sebagian besar milenial hanya mampu membeli sekitar 3 persen dari rumah yang ada di Jakarta. Akibatnya, kebanyakan generasi milenial saat ini, khususnya di Jakarta, memilih untuk membeli hunian di pinggiran Jakarta dengan harga yang lebih terjangkau.

Generasi milenial yang memilih harga hunian kurang Rp500 juta disebutkan sebanyak 57 persen konsumen. Selain itu terdapat 21 persen responden mencari rumah Rp500 juta hingga Rp700 juta. Menurutnya, generasi milenial masih urung membeli properti, karena selain menganggap urusan KPR itu rumit, juga cenderung mengutamakan kebutuhan konsumsi dan traveling.

Namun hal tersebut tidak membuat kaum milenial tidak berminat sama sekali dalam membeli hunian. Generasi milenial pada dasarnya sedang mencari atau ingin membeli hunian namun urung beraksi untuk membelinya.

Di Pollux, milenial memiliki pangsa pasar sekitar 10 persen dari total profil konsumen yang sudah membeli proyek di perusahaan properti ini. Khusus milenial, Pollux menawarkan pembayaran mekanisme KPA dengan sistem subsidi DP dan bunga.

“Seperti program khusus KPA dari proyek Meisterstadt Batam, kami menawarkan bunga fix selama 5 tahun dari 8 persen menjadi 5 persen,” ujarnya.

Nico mengatakan, untuk mengatasi tantangan daya beli yang terbatas di kalangan milenial, pihaknya berencana terus menjalin kerja sama dengan sejumlah bank untuk memberikan program Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dengan DP ringan, sehingga memudahkan kaum milenial membeli hunian.

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!