JAKARTA, Weradio.co.id – Ali Akbar, Ketua Tim Penelitian dan Pemulihan Situs Megalitik Gunung Padang, memuji konsistensi PWI DKI Jakarta (Jaya) dalam memadukan kegiatan kebudayaan dengan pelestarian situs.
"Kami sangat menghargai kegiatan ini. Pagelaran seni di ruang bersejarah seperti Gunung Padang bukan hanya memperkaya pengalaman budaya, tetapi juga menguatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga warisan peradaban," ungkap Ali Akbar di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, Kamis, 4 Desember 2024.
Ali Akbar berharap kegiatan serupa terus berlanjut sehingga masyarakat semakin memahami nilai arkeologis, historis, dan spiritual situs tersebut.
PWI Jaya telah menggelar Pentas Budaya yang digelar PWI DKI Jakarta (Jaya) di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, situs prasejarah terbesar di Asia Tenggara tersebut, Kamis, 4 Desember 2025 malam.
BACA JUGA:Ujian Tulis Tangan Jadi Metode Baru untuk Evaluasi Peserta OKK PWI Jaya 2025
Dalam kesempatan itu, penanggung jawab kegiatan, Dar Edi Yoga, mengatakan, Pentas Budaya tersebut bukan sekadar kegiatan seni. Pentas Budaya yang digelar di Pendopo Gunung Padang adalah bentuk ikhtiar merawat kebudayaan sekaligus meneguhkan jati diri bangsa.
Menurut Dar Edi Yoga, perubahan lokasi akibat cuaca hujan ekstrem tidak mengurangi esensi kegiatan. Semula, pentas seni dijadwalkan digelar di Teras 4 Gunung Padang.
"Ini bukan sekadar pentas seni. Ini ikhtiar merawat kebudayaan sekaligus meneguhkan jati diri bangsa," ujar dia, Kamis, 4 Desember 2025, malam.
Dar Edi Yoga menegaskan, pentas seni di Gunung Padang adalah cara menghormati sejarah serta memperkuat identitas kebangsaan melalui ikhtiar.
BACA JUGA:Penyesuaian Struktur, PWI Jaya Tetap Jaga Semangat Kebersamaan
Ikhtiar merawat kebudayaan adalah sebuah kesadaran mendalam bahwa kebudayaan bukan sekadar kumpulan tradisi, artefak, atau upacara, tetapi ekspresi utuh dari perjalanan manusia dalam memahami dunia dan dirinya.
Dalam perspektif filosofis, ikhtiar berarti usaha yang dilakukan dengan kesungguhan hati, niat yang jernih, dan tanggung jawab moral.
Karena itu, merawat kebudayaan melalui ikhtiar bukan hanya perkara melestarikan, tetapi juga menghidupkan, membuat budaya tetap bernapas dalam setiap generasi.
Acara dimulai dengan alunan Sape dari Grup SlarasBudaya oleh Ghodiel Sapeq dan Arke Nurdjatni Soedjatno. Petikan instrumen tradisional Dayak itu menghadirkan suasana sakral yang langsung mengikat perhatian para tamu, walaupun panggung telah bergeser ke Pendopo Gunung Padang.
BACA JUGA:MHT Awards 2025 Sukses Digelar, PWI Jaya Wacanakan Tambahan Kategori