"Dunia yang kita tinggali hari ini bukanlah dunia yang tengah dalam keadaan baik-baik saja. Hutan-hutan yang sedianya menjadi paru-paru dunia, pepohonan yang memampukan seluruh makhluk hidup untuk bernapas, ditebang habis, digantikan dengan kehadiran alat-alat berat yang membuat lubang ke dalam perut bumi," kata Maria Tri Sulistyani, Pendiri dan Direktur Artistik Papermoon Puppet Theatre, Indonesia.
Lewat karya instalasinya, Maria ingin mengatakan, hutan yang sedianya menjadi tempat jutaan spesies makhluk hidup tinggal, dibabat habis, digantikan oleh tumbuhan satu jenis. Jangan tanya lagi ke mana jutaan spesies itu berpindah. Mereka mati, mereka punah.
"Bumi yang kita tinggali hari ini, bukanlah tempat hidup yang sedang dalam kondisi baik-baik saja. Ribuan tahun yang lalu, Yesus juga lahir di tempat yang tidak baik-baik saja, Ia lahir di sebuah kandang, dan dalam bayang-bayang teror Herodes yang ingin membunuhnya. Jika bisa memilih, tak akan ada seorang perempuanpun mau memilih kandang sebagai tempat melahirkan," katanya.
BACA JUGA: Indomaret Libatkan Lebih dari 10.000 Peserta dalam Program Donor Darah Rutin
Kitab Suci menjelaskan, Yesus lahir di antara orang-orang yang kesusahan. Ia hadir ditengah ketidakadilan.
"Jika saya boleh menggambarkan peristiwa kelahiran Yesus, dan melihatnya dengan peristiwa hari ini, Keluarga Kudus hari ini ditemani oleh Mama-Mama penenun kain dari Mollo," tutur Maria.
Dalam karya ini, Maria meminjam tenun dari Mollo untuk membalut Keluarga Kudus. Mollo adalah sebuah kota kecamatan yang terletak di NTT. Mollo sendiri artinya adalah perempuan dari gunung, orang-orang yang ditugaskan oleh leluhur untuk menjaga batu, mata air dan hutan.
Para perempuan Mollo maju ke garis depan, berjuang melawan tambang bukan tanpa alasan. Merusak alam berarti mengganggu keseimbangan mereka menjalankan tugas menjaga ruang hidup dan sumber pengetahuan yang sekaligus identitas diri.
BACA JUGA:Akhmad Munir Akui Terinspirasi Semangat Penyandang Disabilitas
Papermoon Show
Patung instalasi nativitas karya Maria juga dipentaskan dalam bentuk teater boneka oleh Papermoon Puppet Theatre. Pentas teater boneka dilakukan dua kali.
Pertama di KBRI Takhta Suci yang ditonton oleh sejumlah duta besar dan diplomat antara lain dari Korsel, Rusia, Iran, perwakilan United Nations Women's Guild, para romo, dan umat paroki. Penampilan kedua di Colegio Verbo Divino (Kolegio SVD) yang dihadiri para romo dan suster anggota IRRIKA dan Rehat.
Pertunjukan teater boneka selama 20 menit dimainkan oleh Maria yang memainkan boneka dan yang diberi nama Mama Tua dan Kinanti Sekar Rahina dari Sanggar Seni Kinanti Sekar yang memeragakan tarian mama-mama yang berjuang melawan perusakan gunung oleh penambangan dan mama-mama Mollo yang menenun kain di Kaki Gunung Mutis.
Tarian itu menggambarkan perempuan Mollo menenun selama berbulan-bulan di bawah kaki Gunung Mutis, yang ditambang oleh perusahaan tambang batu marmer sejak 1999.
BACA JUGA:Ini Alasan Hendra Hidayat Dukung Fun Walk Pokja PWI Jakarta Utara
Warga Mollo melawan karena gunung batu yang hendak ditambang adalah gunung batu yang menjadi identitas masyarakat Mollo. Ketika gunung batu itu dihancurkan, maka asal muasal leluhur lenyap.