JAKARTA, Weradio.co.id - Ada pergeseran strategis dan tantangan unik di pasar tenaga kerja Indonesia di tahun baru 2026. Artificial Intelligence (AI) pun sudah tidak lagi sekadar alat bantu rekrutmen,
Demikian menurut Jobstreet by SEEK, salah satu platform terpercaya dalam pencarian kerja di Indonesia.
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, pasar kerja nasional justru diproyeksikan tetap solid.
Peluang tersebut tidak hanya bersumber dari pertumbuhan organik dalam negeri. Dinamika perdagangan global juga berpotensi mendorong relokasi sebagian industri manufaktur ke Asia Tenggara.
Ini adalah momentum emas bagi Indonesia—dengan catatan kita mampu bersaing dari sisi infrastruktur, kemudahan berusaha, dan yang paling krusial adakah kesiapan talenta.
Integrasi Keterampilan
Jika tahun 2023 hingga 2025 adalah fase pengenalan, maka 2026 adalah fase optimalisasi. AI tidak lagi sekadar alat bantu rekrutmen, tetapi telah mengubah definisi kompetensi itu sendiri.
Dalam siaran pers yang diterima Weradio.co.id, Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director untuk Indonesia, Jobstreet by SEEK menjelaskan, “Dari perkembangan tersebut, keterampilan terkait AI tentunya akan semakin dibutuhkan lintas fungsi. AI tidak lagi eksklusif milik engineer, tetapi menjadi keharusan untuk berbagai divisi termasuk pemasaran, operasional, hingga keuangan."
BACA JUGA:Tanam 600 Bibit Pohon di Wonogiri, Kalbe Konsisten Tingkatkan Kualitas Lingkungan
"Kuncinya terletak pada AI literacy (kecakapan AI), data literacy, dan kemampuan mengintegrasikan AI ke alur kerja untuk mendongkrak produktivitas," tambah Wisnu Dharmawan.
Data dari laporan eksklusif iring, Compensation, and Benefits 2025 dari Jobstreet by SEEK menemukan bahwa dengan meningkatnya penggunaan AI dalam beberapa tahun terakhir, 71% perusahaan di Indonesia saat ini juga mempertimbangkan pengetahuan AI kandidat saat merekrut.
Sebagai dampaknya, kita akan melihat pergeseran relevansi keterampilan. Pekerjaan yang bersifat repetitif dan klerikal (administratif rutin) akan semakin tergerus otomatisasi. Sebaliknya, nilai tambah manusia akan bergeser ke kemampuan analisis, pemecahan masalah yang kompleks, kreativitas, dan pengambilan keputusan berbasis data.
Bagi pekerja, ini saatnya mengevaluasi apakah pekerjaan sehari-hari didominasi tugas rutin yang mudah di otomasi; jika ya, itu sinyal untuk mulai berinvestasi pada keterampilan baru.
Fenomena Lain