Zam Zam menambahkan, frasa lama Sebujur Aceh Selintang Batak seharusnya dimaknai sebagai pernyataan geopolitik dan kebudayaan Nusantara awal. Dalam pandangannya, Aceh dan Batak berada dalam satu bentang sejarah yang saling terhubung, dengan Gayo berdiri di tengah sebagai penghubung, bukan sebagai batas pemisah.
Menurut Zam Zam, pengabaian terhadap sejarah Gayo tidak hanya berdampak pada kajian akademik, tetapi juga memengaruhi cara negara membangun identitas kebangsaan.
“Ketika sejarah disederhanakan, bangsa kehilangan kemampuan memahami keberagamannya secara dewasa. Indonesia berdiri di atas narasi yang timpang, kuat di pusat, rapuh di akar,” tegas dia.
Dia menutup dengan menegaskan bahwa pengakuan terhadap peran Aceh Gayo dalam sejarah Nusantara bukan ancaman bagi identitas mana pun.
BACA JUGA:Masuk Ancol Gratis Mulai 18 Februari 2026, Ini Persyaratannya
“Bangsa yang besar tidak takut mengoreksi sejarahnya sendiri. Aceh Gayo adalah fondasi sunyi Nusantara, dan sudah saatnya fondasi itu diangkat ke permukaan untuk melengkapi Indonesia secara utuh,” pungkas Zam Zam Mubarak.