Tokoh Muda Aceh Ungkap Sejarah Nusantara Abaikan Peran Aceh Gayo
Aceh Gayo adalah fondasi sunyi Nusantara, dan sudah saatnya fondasi itu diangkat ke permukaan untuk melengkapi Indonesia secara utuh-Weradio.co.id-DOK IST
BANDA ACEH, Weradio.co.id - Tokoh muda ACEH, Zam Zam Mubarak, menilai terdapat persoalan serius dalam cara bangsa Indonesia membaca dan menuliskan sejarahnya sendiri.
Menurut Zam Zam, historiografi Nusantara selama ini terlalu berpusat pada wilayah pesisir, kerajaan besar, dan pusat-pusat kekuasaan, sementara kawasan pedalaman yang justru menyimpan jejak peradaban awal kerap terpinggirkan. Salah satu wilayah yang paling terdampak dari ketimpangan tersebut adalah Aceh Gayo.
“Ada masalah serius dalam cara bangsa ini membaca dirinya sendiri. Sejarah Nusantara terlalu lama ditulis dari sudut pandang pesisir dan pusat kekuasaan, sementara wilayah pedalaman dibiarkan menjadi catatan kaki. Aceh Gayo adalah korban paling nyata dari ketimpangan historiografi itu,” ujar Zam Zam Mubarak dalam keterangan resmi yang dibaca Weradio.co.id, Sabtu, 21 Februari 2026.
Zam Zam menjelaskan, sejak sekitar Abad Ke-10 Masehi, kawasan Gayo di sekitar Danau Laut Tawar telah menunjukkan ciri-ciri peradaban yang mapan. Keberadaan sistem sosial, kosmologi leluhur, teknologi agraris, hingga struktur kekuasaan lokal, menurutnya, menjadi bukti peradaban Gayo tidak mungkin lahir dari ruang kosong.
BACA JUGA:Pengakuan Jujur Pramono Anung dan Rano Karno Usai Setahun Pimpin Jakarta
Dia menegaskan, pelabelan Gayo sebagai wilayah pinggiran Aceh justru mengaburkan fakta sejarah.
“Menempatkan Gayo sebagai wilayah pinggiran Aceh bukan sekadar keliru, tetapi menutup fakta bahwa Gayo adalah salah satu simpul awal Nusantara,” kata dia.
Lebih lanjut, Zam Zam menyoroti hubungan historis antara Gayo dan wilayah yang kini dikenal sebagai Sumatera Utara, khususnya kawasan Danau Toba.
Dia menyebut kesamaan tradisi megalitik, simbol lingga, struktur marga, hingga orientasi kosmologis sebagai indikasi kuat adanya kesinambungan budaya. Fakta ini menunjukkan bahwa Nusantara tidak hanya dibangun melalui jalur laut, tetapi juga melalui jalur pegunungan.
BACA JUGA:Lab Narkoba di Permukiman Padat Sunter Digerebek, 13 Kg Sabu Diamankan
“Kesamaan budaya itu bukan romantisme etnis, melainkan indikasi migrasi dan percampuran manusia lintas generasi,” ujar Zam Zam.
Dia juga menyinggung hipotesis bahwa sebagian leluhur Batak memiliki akar kuat dari wilayah Gayo. Zam Zam menegaskan, gagasan tersebut bukan klaim politis, melainkan hipotesis historis yang didukung temuan arkeologis.
Namun, dia menyayangkan penolakan terhadap hipotesis ini kerap muncul bukan karena lemahnya data, melainkan karena berbenturan dengan narasi identitas yang sudah mapan.
“Di titik ini, sejarah berhenti menjadi ilmu pengetahuan dan berubah menjadi wilayah sensitif yang tabu dipertanyakan,” ucap dia.