Pekerja di Indonesia Paling Bahagia di Asia Pasifik, Penyebabnya bukan Sekadar Gaji Tinggi
Acting Managing Director Jobstreet by SEEK untuk Indonesia Wisnu Dharmawan (kanan) saat memberikan pemaparan hasil survei tentang indeks kebahagiaan pekerja di Indonesia, Selasa kemarin. -Weradio.co.id-Agus Riyanto
BACA JUGA:BRI Life Kembali Torehkan Pencapaian Strategis, Raih Penghargaan
Generasi X (Gen X) menjadi kelompok yang paling puas dengan tingkat kebahagiaan mencapai 85 persen, diikuti Milenial sebesar 84 persen. Bagi generasi yang lebih senior ini, kebahagiaan berakar kuat pada hubungan tim yang solid serta ritme kerja harian yang mereka kuasai.
Sebaliknya, Gen Z yang baru memulai karier justru melaporkan tingkat kebahagiaan terendah di angka 76 persen. Mereka sering kali merasa kurang dihargai dan kesulitan menghubungkan tugas harian mereka dengan tujuan yang lebih besar, sebuah tantangan nyata bagi perusahaan untuk mulai lebih merangkul aspirasi talenta muda.
Peta kebahagiaan ini juga sangat dipengaruhi oleh lanskap industri dan geografis. Sektor Teknologi tetap menjadi primadona dengan tingkat kebahagiaan tertinggi mencapai 93%, di mana rasa bangga akan tempat kerja dan kejelasan tujuan menjadi penggerak utama.
Sementara itu, jika melihat berdasarkan wilayah di Indonesia, Jabodetabek berdiri sebagai wilayah dengan pekerja paling bahagia (87 persen), berbanding terbalik dengan Wilayah Barat Indonesia yang mencatat angka terendah sebesar 75 persen — dipicu oleh faktor pendapatan dan akses terhadap fasilitas kerja yang lebih memadai di ibu kota, yang secara langsung memperkuat rasa aman dan keseimbangan hidup para pekerjanya.
AI dan Burnout
BACA JUGA:Akselerasi Dekarbonisasi Dorong Pencapaian Target Nasional Indonesia
Laporan tersebut juga mengungkapkan ada kekhawatiran yang mengintai terkait perkembangan penggunaan teknologi dengan kehadiran artificial intelligence (AI).
Sebanyak 42 persen pekerja merasa AI mengancam keamanan pekerjaan (job security) mereka, khususnya datang dari mereka yang bekerja di sektor Teknologi.
Sebanyak 43 persen pekerja juga merasa lelah secara mental (burnt out) atau kehabisan tenaga. Ironisnya, 40 persen dari mereka yang mengaku "bahagia" ternyata juga merasakan burnout di bawah permukaan.
“Pencapaian Indonesia sebagai pemimpin kebahagiaan kerja di Asia Pasifik merupakan cerminan dari optimisme dan budaya positif yang kuat di Tanah Air," kata Wisnu.
BACA JUGA:Ini Tips Menata Ulang Keuangan di Momen Awal Tahun dari Bank Neo Commerce
Dia melanjutkan, "Namun, perusahaan tidak boleh terlena. Angka burnout sebesar 43 persen dan kekhawatiran terhadap AI merupakan 'alarm' bagi para pemberi kerja untuk bertindak proaktif."
"Kebahagiaan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika perusahaan mampu menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan mental karyawan," tambah Wisnu.
Terkait laporan di atas, Jobstreet by SEEK mendorong perusahaan fokus pada tiga strategi utama, yaitu membangun makna kerja bagi setiap level karyawan; mendukung batasan kehidupan pribadi melalui fleksibilitas; dan mendengarkan kebutuhan spesifik antargenerasi.