Kerusuhan di Iran: Staf Medis Bahkan Tak Bisa Beri CPR
Kerusuhan di Iran memakan banyak korban jiwa -X-
JAKARTA, Weradio.co.id - Aksi demonstasi anti pemerintah di Iran berujung menjadi kerusuhan massal. Korban jiwa dan cedera tak tertolong lagi karena staf medis bahkan tak sempat memberi napas buatan atau CPR.
Staf di tiga rumah sakit di Iran mengatakan kepada BBC seperti dibaca Weradio, bahwa fasilitas mereka kewalahan dengan pasien yang tewas atau terluka, karena protes anti-pemerintah besar-besaran terus berlanjut.
Seorang petugas medis di salah satu rumah sakit Teheran mengatakan ada "tembakan langsung ke kepala para pemuda, juga ke jantung mereka", sementara seorang dokter mengatakan rumah sakit mata di ibu kota telah memasuki mode krisis.
Dua petugas medis merawat luka tembak dari amunisi hidup dan peluru karet.
BACA JUGA:Jakarta Lavani Beri Sinyal Kuat Juara Proliga 2026 setelah Mencukur Jakarta Garuda
Pada hari Jumat, AS mengulangi bahwa pembunuhan demonstran akan dibalas dengan respons militer. Iran menyalahkan AS karena mengubah protes damai menjadi apa yang disebutnya "tindakan subversif kekerasan dan vandalisme yang meluas".
Menanggapi perkembangan terbaru, Presiden Trump memposting di media sosial: "Iran sedang melihat KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!"
Ekonomi Sulit
Protes dimulai di ibu kota Teheran dua minggu lalu karena kesulitan ekonomi.
Sejak itu, protes telah menyebar ke lebih dari 100 kota dan desa di seluruh provinsi Iran. Ratusan demonstran diyakini telah tewas dan terluka, dan banyak lagi yang ditahan. BBC Persia telah mengkonfirmasi identitas 26 orang, termasuk enam anak-anak.
BACA JUGA:Bandung BJB Tandamata Awali Perjalanan di Proliga 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan
Anggota pasukan keamanan juga telah tewas, dengan satu kelompok hak asasi manusia menyebutkan jumlahnya 14 orang.
BBC Persia telah memverifikasi bahwa 70 jenazah dibawa ke Rumah Sakit Poursina di kota Rasht pada Jumat malam. Kamar mayat di sana sudah penuh, sehingga jenazah-jenazah tersebut dibawa pergi. Pihak berwenang meminta uang sebesar 7 miliar rial (£5.222; $7.000) dari keluarga korban tewas untuk membebaskan jenazah mereka agar dapat dimakamkan, kata sebuah sumber rumah sakit.
BBC dan sebagian besar organisasi berita internasional lainnya dilarang meliput berita di dalam Iran, dan negara tersebut telah mengalami pemadaman internet hampir total sejak Kamis malam, sehingga sulit untuk mendapatkan dan memverifikasi informasi.