Peristiwa Bersejarah, Indonesia Tampil Perdana di Pameran 100 Gua Natal di Vatikan

Peristiwa Bersejarah, Indonesia Tampil Perdana di Pameran 100 Gua Natal di Vatikan

Indonesia untuk kali pertama ambil bagian dalam The International Exhibition 100 Presepi in Vaticano, atau 100 Gua Natal di Vatikan. Peristiwa budaya ini adalah bagian rangkaian Jubilee is Culture.-Weradio.co.id-KBRI Takhta Suci

Keterlibatan kampus ini diwakili Romo Budi Subar SJ dan Stanislaus Sunardi sekaligus menjadi wujud kolaborasi antara dunia akademik, seniman, dan diplomat dalam kerja diplomasi budaya yang berkelanjutan. 

BACA JUGA:Menjaga Cahaya Budaya di Gunung Padang, Peneliti Apresiasi PWI Jaya

Waving Hope

Sebagaimana motto Jubileum 2025 ini, Peregrini in Speranza atau Penziarah Pengharapan, instalasi nativitas karya Maria Tri Sulistyani ini diberi judul Waving Hope, Menenun Pengharapan.

Karya instalasi nativitas berukuran 135 x 135 x 65 cm (tanpa stand), berbahan kayu, triplex, kertas, kain tenun, dan benang ini, mengangkat kisah perjuangan para ibu penenun di Mollo, Nusa Tenggara Timur. Mereka selama ini merawat alam dan identitas budaya melalui tradisi menenun. 

Dalam instalasi ini, kelahiran Yesus dihadirkan bukan di kandang di Betlehem, seperti sebagian besar instalasi lainnya. Tetapi, dimaknai ulang dalam lanskap pegunungan batu Mollo di tengah perempuan- perempuan penenun yang hidup sederhana, sering terpinggirkan secara ekonomi, namun kaya martabat dan kebijaksanaan. 


Indonesia untuk kali pertama ambil bagian dalam The International Exhibition 100 Presepi in Vaticano, atau 100 Gua Natal di Vatikan.-Weradio.co.id-KBRI Tahkta Suci

Menurut Romo Budi Subanar SJ, yang menggagas instalasi nativitas dari Indonesia dan juga Ketua Steering Committee delegasi Indonesia, narasi ini merefleksikan pesan inti Natal, yaitu Yesus yang lahir 2.000 tahun lalu di tengah kaum kecil dan marginal, hadir kembali hari ini di tengah mereka yang terus berjuang mempertahankan tanah, air, hutan, dan warisan budaya demi generasi mendatang.

BACA JUGA:SKK Migas dan JOB Tomori Tingkatkan Profesionalisme Jurnalis Banggai lewat Edukasi Media

Tangan Terbuka

Dengan demikian, nativitas Indonesia bukan hanya dekorasi religius, melainkan kesaksian tentang  bagaimana iman, keadilan sosial, dan keberlanjutan budaya saling bertaut. 

Karya instalasi berupa tangan terbuka yang menopang Keluarga Kudus. Mengapa tangan? Tangan melambangkan aksi; tangan melambangkan sebuah gerakan, kehidupan. 

Kata Maria, tangan yang menopang Keluarga Kudus ini, adalah tangan-tangan yang mendukung dan menemani, tangan para 

penenun, petani, tangan para gembala, tangan para penjual sayur, tetapi juga tangan tiga orang majus yang datang dari jauh dan membawakan hadiah. 

BACA JUGA:Komunitas SlarasBudaya Padukan Harmoni Seni, Alam, dan Kuliner di Tana Bambu