Komix Herbal Goes to School Ambil Peran untuk Bantu Luruskan Pemahaman Generasi Muda tentang Kesehatan

Komix Herbal Goes to School Ambil Peran untuk Bantu Luruskan Pemahaman Generasi Muda tentang Kesehatan

Peserta dan pemateri Komix Herbal Goes to School di Bengkulu. Program ini digelar di akhir 2025 dan berlanjut ke awal 2026 dengan menyasar pelajar SMA/SMK di berbagai kota di Indonesia. Dalam kegiatan ini, para siswa diajak berdialog langsung mengenai pen--Dok PT Bintang Toedjoe

JAKARTA, Weradio co.id - Guna mengantisipasi informasi keliru tentang penggunaan obat dan swamedikasi mudah diterima dan dipraktikkan, terutama oleh remaja, PT Bintang Toedjoe melalui program edukatif Komix Herbal Goes to School mengambil peran untuk membantu meluruskan pemahaman generasi muda.

Dikutip dari siaran pers yang diterima Weradio.co.id, program edukatif tersebut fokus pada pentingnya edukasi penggunaan obat sejak dini, pengenalan swamedikasi yang aman, serta kemampuan memilah informasi kesehatan yang kredibel di era digital.

Public Relations PT Bintang Toedjoe, Zaini Ahsan Prahendra, menyampaikan bahwa kebiasaan sehat perlu dibangun sejak usia sekolah agar tidak terbentuk pola penggunaan obat yang keliru di kemudian hari.

“Melalui Komix Herbal Goes to School, kami ingin membantu Gen Z memiliki dasar pemahaman kesehatan yang benar sejak dini," kata Zaini Ahsan Prahendra.

BACA JUGA:Tunjukkan Identitas Penggemar Vespa dengan Streetwear Style dari Dealer Equipment Collections Piaggio

"Remaja perlu tahu bagaimana menggunakan obat dengan tepat, termasuk saat melakukan swamedikasi dan memilih produk yang aman. Dengan edukasi yang cukup, mereka tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru dan bisa lebih bertanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri,” ujarnya.

Program Komix Herbal Goes to School telah berjalan di berbagai daerah sebagai bagian dari komitmen jangka panjang PT Bintang Toedjoe dalam membangun Generasi Sehat, Generasi Herbal.

Tidak hanya mengenalkan potensi herba asli Indonesia, program tersebut juga menekankan bahwa pengobatan mandiri memiliki batasan yang perlu dipahami, terutama oleh remaja yang kerap terpapar rekomendasi kesehatan di media sosial.

Informasi kesehatan keliru

BACA JUGA:Nuanu Hemat Puluhan Ribu Liter BBM dan Gelontorkan Rp 5,6 Miliar untuk Sosial

Dokter Muhammad Nafi’ Rizqi A, dokter umum yang aktif mengedukasi kesehatan melalui platform digital, menilai edukasi ini semakin relevan di tengah maraknya informasi kesehatan yang belum tentu akurat.

“Swamedikasi bisa menjadi langkah awal untuk keluhan ringan jika dilakukan dengan informasi yang benar. Remaja perlu dibekali pengetahuan agar bisa membedakan mana rekomendasi yang kredibel dan mana yang sekadar opini. Dengan begitu, penggunaan obat bisa lebih aman dan tidak menimbulkan risiko,” jelasnya. (*)

BACA JUGA:JS Management Konsisten Cetak Talenta, Ghia Sabet Runner Up Puteri Kebaya Jatim 2025